Mobile Legends, Candu Bagi Mereka.

“Die Religion … ist das Opium des Volkes”

Begitulah kata oom Marx sekitar dua abad lalu, tentang bagaimana agama merupakan candu bagi masyarakat. Tempat pelarian bagi mereka yang tertindas. Tempat melupakan.

Dalam bahasan ini, kita tidak akan membahas tentang pergeseran konteks dan pemaknaan dari kalimat oom Marx di atas, dari terjemahan ke terjemahan. Marxisme itu berat, cukup elitist-elitist saja.

Ataupun bagaimana agama dijadikan senjata propaganda paling mematikan dari satu kubu menjelang Pilpres 2019 untuk menancapkan taring kekuasaannya. Senjata massal untuk menghancurkan lawan politik dengan mengerahkan pasukan zombie yang disetir dengan sentimen. Bahasan basi, capek.

Kita lebih akan membahas ke arah candu dan tempat pelarian.

Minggu malam kemarin di Taman Anggrek, perjalanan panjang Mobile Legends Professional League (MPL) Indonesia, sebuah laga kompetitif game mobile, bisa dibilang, paling bergengsi di Indonesia berakhir. Sebuah euphoria dan ekstasi luar biasa. Puluhan ribu penonton membanjiri atrium utama mall Taman Anggrek, tempat acara berlangsung selama satu akhir pekan. Ratusan ribu lagi yang tidak bisa hadir memantengi livestreaming di Facebook LIVE. Sendal jepit dan bau bawang bertebaran di salah satu mall paling bergengsi di Jakarta, pemandangan aneh, tidak pada tempatnya. Absurd.

Aneh dan absurd itu adalah wajar bagi ML. Mobile Legends (ML) merupakan fenomena besar di Indonesia belakangan ini, di luar politik. Sebuah mobile game yang dimainkan dari masyarakat akar rumput sampai kelas konglomerasi. Permainan yang mempersatukan berbagai kalangan dari kelas bawah sampai atas dalam satu medan tempur. Lima lawan lima, direktur versus tukang ojek? Sikat!

Sudah jadi pemandangan wajar di negara ini, dimana manusia-manusia terpukau kilau cahaya smartphone. Sekarang ditambah dengan mereka yang sibuk berkutat dengan posisi hape miring. Entah itu di emperan jalan ketika ojol sedang menunggu order nggak kunjung datang, di tangga darurat di mana cleaning service curi-curi waktu bermain, di kampus ketika dosen berceloteh, di Starbucks ketika anak-anak muda berkumpul. Bahkan di cafe kelas atas kita bisa melihat pemandangan hape miring ini.

Mengapa Mobile Legends? Coba kita gantikan kata religion (agama) dalam kalimat oom Marx ┬ádi atas dengan kata Mobile Legends: Die Mobile Legends … ist das Opium des Volkes

Eh, ternyata pas dan masuk akal.

Mobile Legends masuk ke Indonesia di waktu paling tepat, tidak ada waktu yang lebih baik lagi. Kala itu, manusia-manusia Indonesia sedang penat dengan keadaan politik nan carut marut, himpitan ekonomi bikin sakit kepala, Mobile Legends hadir sebagai hiburan baru bagi semua kalangan. Murah dan mudah itu kata kuncinya. Sebagai hiburan, Mobile Legends sangat murah dan mudah diakses. Kapan saja dimana saja, lima lawan lima. Bermodalkan hape dan koneksi internet, semua bisa ikutan.

Perlahan, dari hiburan menjadi candu. Lagi-lagi, murah dan mudah itu kata kuncinya, tidak seperti candu lain. Minuman keras itu mahal, cuma bisa dinikmati kalangan tertentu. Narkoba itu ilegal dan tidak mudah diakses. Pornografi, ah sudahlah. Agama? Kagak boleh dibahas, men.

Mobile Legends hadir sebagai candu baru. Sanctuary baru, dimana kita bisa melarikan diri dari kenyataan. Dalam kata lain, Mobile Legends telah bertransformasi menjadi sebuah obat penenang atau pereda rasa sakit bagi penggemarnya. Mereka yang tertindas secara sosial dan ekonomi dalam masyarakat yang terbagi atas kelas-kelas ini.

Di era kapitalisme akhir ini, kita semua butuh candu untuk melupakan. Siapa saja butuh pelarian. Dan Mobile Legends telah menjadi salah satu candu tersebut. At least, di Indonesia.

ODDLOOP

ODDLOOP

A little bit of perversion, a dash of poignancy, and a spoonful of audacity.
ODDLOOP

ODDLOOP

A little bit of perversion, a dash of poignancy, and a spoonful of audacity.